Maukah kamu berjalan terus di sampingku, hingga kita dipisah maut yang pemalu itu?
Hatiku satu, dan itu sudah jadi milikmu.
Kamu adalah alasanku berlama-lama berbincang dengan Tuhan melalui doa.
Tiap kali kamu diam dan enggan untuk bercerita, seketika aku merasa bukan siapa-siapa.
“Hai, ini aku Raga. Dan kamu… pasti Auora.” Aku menyodorkan tangan pada wanita manis ber-cardigan cokelat muda yang sedang duduk di tepi meja sambil tersenyum. Dia tampak kaget, walau setelah itu dia turut menyambut tanganku dengan senyum tak kalah sumringah.
“Iya, aku Auora, Ga”
Ah lembut sekali suaranya.
Aku tersenyum. “Boleh aku ikut duduk?”
“Eh iya, silakan.”
“Terima kasih.”
Aku menarik sandaran kursi dan duduk di atas busanya yang tebal.
Seorang pelayan datang dan sebelum dia menyerahkan menu, aku langsung memesan teh hangat dan spaghetti untukku diriku sendiri dan cappuccino dan kentang goreng untuk Auora. Dia mengangguk dan pergi ke dapur sambil mencatat sesuatu di kertas yang dibawanya sambil mengingat-ingat. Auora terlihat memamerkan senyum lebarnya yang cantik mendapati aku yang memesan makanan dan minuman kesukaannya.
“So?” Kataku kemudian kepada Auora yang masih tersenyum.
“So? So apa, Ga?”
“Ya ini, kita akhirnya bertemu. Setelah.. berapa tahun?”
“3 tahun 4 bulan 15 hari.” Katanya yakin.
“Ah kamu selalu ingat. Iya, setelah 3 tahun 4 bulan dan 15 hari hanya berhubungan lewat… udara.”
Auora mengikik lucu. “Ya habis gimana ya.. hmm..”
“Padahal kita satu kota. Bahkan jarak rumah kita gak lebih dari dua blok.” Kataku pelan.
Auora yang tadi tertawa, mendadak reaksinya berubah.
“Jadi kamu tau alamat aku?!” Auora menatap tak percaya. “Selama ini?!”
Aku mengangguk. “Iya, sejak bulan pertama kita bersama. Untuk masalah ini, aku cukup kepo ternyata. Ah, lebih tepatnya demi kamu aku jadi selalu ingin tahu. Alamatmu, tempat kerjamu, dan lain-lainnya. Hehe.”
Ada jeda sebelum Auora kembali berbicara. Dia tampak bingung dan itu terlihat dari sikapnya yang asik menggigit bibir.
“Aku jadi penasaran.” Katanya lagi.
“Penasaran kenapa?”
“Kalau selama tiga tahun ini kamu udah tau alamatku, kenapa kamu nggak datang dan menemuiku?”
Aku tak langsung menjawab, karena pelayan yang tadi datang menyela sambil membawa pesanan dengan kepayahan.
“Selamat menikmati.”
“Terima kasih.” Kataku pada pelayan wanita yang murah senyum itu. Dia mengangguk pelan lalu pergi sambil membawa nampan.
Aku menyeruput teh hangat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Auora yang menunggu sambil tetap menggigit-gigit bibirnya gemas.
“Jawabannya sederhana, aku tak datang, karena kamu bilang kamu belum siap.”
Auora bengong. “Masa? Bukannya kamu bilang kamu penasaran banget sama aku?”
“Ya, aku penasaran dan amat sangat ingin ketemu kamu. Tapi..”
“Tapi apa?”
“Tapi kan kamu gak mau. Aku gak mau paksa. Nanti kamu malah gak nyaman jadinya.”
“Tapi kan kamu pengen banget ketemu!” Auora tampak masih tak percaya. “Masa sih kamu gak nekat nyamperin aku selama tiga tahun ini, Ga?!”
Melihat wajah Auora yang tampak gusar dan gemas itu, aku tak mau langsung menjawab. Aku hanya tersenyum lalu tanpa sadar sesekali mengelus kepalanya pelan.
“Ayo dong cerita. Kenapa?! Kamu ah..”
“Berisik ah.” Bukannya menjawab, aku memutuskan untuk memakan spaghetti dan membiarkan Auora yang ngedumel sendirian karena penasaran. Dumelan yang sama seperti biasanya, yang biasanya hanya aku dapati dari sambungan telepon sebelum tidur atau huruf-huruf besar berwarna merah di kolom chat kami ketika aku berada di kantor.
“Aku ngambek!” Katanya sambil manyun setelah capek ngedumel dan capek melihatku yang tak mempedulikan rengekannya.
“Baiklah.” Kataku.
Aku berhenti makan, berjalan ke kasir, membayar bill dan memberi tip. Lalu aku kembali ke meja lagi dan berkata, “Gimana kalau aku cerita sambil traktir kamu es krim di sudut jalan sana?”
Auora masih tetap manyun, tapi aku lalu mendorong kursi rodanya untuk berjalan keluar, dan menunjukkan ke dia apa itu cinta sebenarnya. Di luar sana. Di mana kehidupan berada.
Bersama-sama selamanya.
fin
Kita nggak akan pernah benar-benar tahu arti seseorang atau sesuatu, sampai akhirnya dia pergi dan tak kembali lagi
Bagaimana mungkin aku bisa merasa benar-benar kehilangan, padahal tidak pernah ada perasaan memiliki.
Ingin aku menjadi akhir, dan menemani tetes-tetes air mata bahagia pada akhir pencarianmu.